Kamis, 08 November 2012

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Malam-malam itu meski amat bencinya dia dengan keputusan Tuhan, amat marahnya dengan segala takdir, sepotong rembulan di atas selalu membuatnya berterima-kasih. 


Mungkin itu gunanya Tuhan menciptakan rembulan terlihat indah dari bumi. Menjadi penghiburan bagi hati yang resah menatapnya."




"Kau tahu, hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, cacat, kehilangan pekerjaan, kehilangan anak, orang-tua, benda-benda berharga, kekasih, kesempatan, kepercayaan, nama baik, dan sebagainya. Dalam ukuran tertentu, kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan."


"Kau tidak seharusnya menjalani masa-masa gelapmu dengan alasan karena hidup ini tidak adil. Kau tidak seharusnya menyalahkan orang-orang yang membuat kehidupanmu buruk, lantas mencari pembenaran-pembenaran."
 

"Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur.



"Kita tidak bisa memilih orang tua, tidak bisa memilih terlahir dari keluarga kaya raja, raja2, dan sebagainya. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih mensyukuri keluarga kita saat ini. Selalu ada alasan kenapa hidup kita begini atau begitu. Dan kalau kita tidak paham, bukan berarti lantas Tuhan tidak adil."  


 --Tere Liye, novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu--




Tidak ada komentar:

Posting Komentar