Senin, 03 Desember 2012

Sebuah Cerita dari Novel "5 Cm" karya Donny Dhirgantoro

5 Cm
Gue nulis di penggalan Blog ini mengingat waktu dulu masih jamannya gue SMA, nemu buku 5 Cm tergeletak di rumah, rupanya itu buku kaka gue. langsung aja gue baca.

Bermula dari 5 sahabat ini, yaitu Genta, Riani, Arial, Ian, dan Zafran yang memberikan gue inspirasi tentang tekad kuat tuk naik gunung, berhubung SMA gak kesampean dan waktu kuliah gue habiskan tuk kegiatan semacam itu..haahhahaa

 ”Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, di depan kening kamu jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu”.

Kata-kata diatas ini yang buat gue yakin, kalau kita punya tekad yang kuat, impian yang kuat, harapan yang kuat, cinta yang kuat dan tentunya dukungan sahabat. Semua hal yang kita inginkan dapat terlaksana.

dan gue mempercayainya....satu per satu itu bakal terwujud asalkan tetap berusaha dan berdoa.
 

 




Sabtu, 24 November 2012

APATIS

Ini berawal dari liburan long weekend kemarin. Disaat gue mudik ke rumah. Yeaaahh, ketemu nyokap sama bokap dan jengukin kaka gue yag lagi sakit.

Biasa saat sampe di rumah ritual gue adalah bermalas-malasan di depan Tivi, kadangkala duduk di ruang tamu sambil Nyanyi-nyani gak jelas sumpel kuping pake MP3....aaannndddd ketika gue nyanyi sebuah lagu, bokap merasa seneng banget. Itu kayanya lagu waktu bokap masih muda dulu. Hah? Ciyus?

Bokap berkata, "Ini ciyusan Lhoo...".

gue masih kagak percaya, itu kan lagunya IPANG yang judulnya APATIS yang boming di OST Sang Pemimpi.

Saking kesenengannya bokap dia mau lagu itu diputer teruuuuuussss.... #yeeeaaahhh

ini dia Lirik lagunya, cekidot...

Roda-roda terus berputar
Tanda masih ada hidup
Kar'na dunia belum henti
Berputar melingkar searah

Terik embun sejuta sentuhan

Pahit mengajuk pelengkap
Seribu satu perasaan
Bergabung setangkup senada

Reff.

Jurang curam berkeliaran
Tanda bahaya sana sini
Padang rumput lembut hijau
Itupun tiada tertampak

Sudah lahir sudah terlanjur

Mengapa harus menyesal
Hadapi dunia berani
Bukalah dadamu
Tantanglah dunia
Tanyakan salahmu wibawa 

saking penasarannya gue, langsung seaching deeehhh. Ternyata itu emang lagu yang hits pada masanya bokap gue. Penyanyinya itu Benny Soebardja - APATIS. Yuuuppp ini lagu di arransemment dan boming di masanya masing-masing.
Di masa mudanya bokap gue dan sekarang di masa mudanya gue, lagu ini tetap enak terdengar ditelinga. Menemani kebersamaan gue sama bokap di rumah. Anak dan Bapak yang akuuurrr... :)

Semua tentang Soe Hok Gie

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Cover Film Gie


MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966


Nicholas Saputra memerankan peran GIE


SEBUAH TANYA
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Selasa, 1 April 1969




PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973


Akhir perjalanan Soe:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.

sumber: berbagai sumber

Kamis, 08 November 2012

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Malam-malam itu meski amat bencinya dia dengan keputusan Tuhan, amat marahnya dengan segala takdir, sepotong rembulan di atas selalu membuatnya berterima-kasih. 


Mungkin itu gunanya Tuhan menciptakan rembulan terlihat indah dari bumi. Menjadi penghiburan bagi hati yang resah menatapnya."




"Kau tahu, hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, cacat, kehilangan pekerjaan, kehilangan anak, orang-tua, benda-benda berharga, kekasih, kesempatan, kepercayaan, nama baik, dan sebagainya. Dalam ukuran tertentu, kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan."


"Kau tidak seharusnya menjalani masa-masa gelapmu dengan alasan karena hidup ini tidak adil. Kau tidak seharusnya menyalahkan orang-orang yang membuat kehidupanmu buruk, lantas mencari pembenaran-pembenaran."
 

"Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur.



"Kita tidak bisa memilih orang tua, tidak bisa memilih terlahir dari keluarga kaya raja, raja2, dan sebagainya. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih mensyukuri keluarga kita saat ini. Selalu ada alasan kenapa hidup kita begini atau begitu. Dan kalau kita tidak paham, bukan berarti lantas Tuhan tidak adil."  


 --Tere Liye, novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu--




Sabtu, 03 November 2012

Pendakian Gunung Lawu


Asyiikkk.... Organisasi Pecinta Alam gue sedang berulang tahun. Yups, biasanya kalau ulang tahun gini, gue bersama saudara-saudara gue di Organisasi ini merencanakan Pendakian Tradisi. Biasanya pendakian tradisi ini menjadi acara penutup dari sekian banyak acara ulang tahun yang kami gelar.

Dan yang paling ditunggu-tungguin inih adalah Pendakian Tradisi. 

Gunung Sindoro terpilih dengan Suksesnya, Perencanaan sudah matang tuk naik ke sindoro, tapi yoo ndilalah Gunung Lawu terpilih dengan sukses menjadi target pendakian tradisi. Alasannya waktu itu kan masih gosip-gosipnya gunung DIENG arep mletus yang asap beracunnya takut merembet ke gunung sindoro, gue mah kebetulan banget mendukung gunung lawu, karena gak bisa ngebayangin bakalan asyiknya perjalannan nanti ke gunung lawu naik kereta..hehehe


Dari sekian perencanaan, akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaa kita bisa mendaki gunung bareng-bareng….
Perencanaan sudah siap mulai dari konsumsi, logistik, perijinan, transportasi dan yang paling penting fisik masing-masing personal.Semoga semuanya gag lagi putuscinta, bisa berabe nanti…

Sebelum matahari menyambut.Kita semua kumpul di sekre tuk persiapan akhir. Ada yang belanja sayur-sayuran, ada yang packing carriel, ada yang masih tidur..ckckck, ayoo pada bangun…
.
OK, semuanya siap dengan cariiel masing-masing, kami bergegas menuju stasiun. Sebelumnya absen dulu, takut ada yang ketinggalan, berasa anak TK yang mau piknik.hahaha
1.     
To be continue yaaa.....admin ngantuuuukkk... :)